Oleh: Abu Muhammad Abdullah Al Munawy
Pada
hari Sabtu, 19 Mei 2012, Pengurus Mushallah Istiqomah Bidang Kerohanian Badan
Eksekutif Mahasiswa FMIPA Unhas kembali mengadadan Perhelatan Akbar Bertajuk Pemuda
dan Propaganda Pemikiran.Kegiatan Seminar Islam Akbar tersebut di Selenggarakan
di Gedung Baruga Andi Pangerang Pettarani Unhas. Kegiatan Besar seperti ini terakhir
kali diadakan di tempat yang sama oleh Bidang Kerohanian FMIPA Unhas sekitar 3 tahun Yang Lalu yang ketika itu mengangkat
tema tentang Murtadisasi Global. Kegiatan kali ini dihadiri kurang lebih 800
Muslim dan Muslimah yang didominasi oleh Mahasiswa yang datang dari berbagai
Kampus di Makassar.
Pada
Kegiatan kali ini, Bidang Kerohanian BEM FMIPA Unhas mengambil tema menarik
seputar Pemuda yang tentu saja tema seperti ini erat hubungannya dengan dunia
Mahasiswa. Bukan hanya tema yang spesial namun mulai pemateri sampai
moderatornya pun merupakan orang-orang pilihan yang sangat kompeten dalam
bidangnya masing-masing. Pemateri Pertama adalah Bapak Prof. Dr. Muhammad
Baharun,.SH.MA. Beliau adalah Rektor Universitas Nasional Bandung sekaligus Ketua
Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia Pusat. Pembicara kedua adalah Bapak KH. Muhammad
Said Abd. Samad,Lc. Beliau adalah tokoh yang cukup dikenal dikota Makassar
sebagai Mubaligh Senior yang sekarang ini menjabat sebagai Ketua LPPI (Lembaga
Penelitian dan Pengkajian Islam) wilayah Indonesia Timur. Adapun yang menjadi
moderator adalah Bapak Dr. Aminuddin Ram,M.Ed. Beliau adalah akademisi Unhas
yang pernah mengenyam pendidikan di beberapa Universitas terkemuka di luar
negeri dan saat ini beliau bekerja
sebagai dosen senior di Fakultas Ilmu Budaya Unhas.
Setelah
berlangsungnya beberapa rangkaian acara pembukaan, diskusipun dimulai dengan
diawali sedikit pengantar oleh Bapak moderator
yang di dalamnya berisi penjelasan tentang bagaimana fenomena para
masyarakat terkhusus kepada pemuda di zaman ini. Setelah itu, moderator mempersilahkan
pemateri untuk memaparkan materinya. Prof Baharun di awal materinya, beliau mengetengahkan
bahwa ada 3 kata kunci yang beliau ambil dari moderator terkait tema yakni
pemuda, pemikiran dan aqidah. Dengan rendah hati sang professor mengatakan
bahwa beliau hanya sekadar ingin memberikan catatan kaki dari apa yang
disebutkan oleh moderator. Kami pun tertegun ketika sang professor memaparkan
materinya dengan begitu memukau dan terkesan sangat intelektual. Beliau
kemudian memberikan perincian tentang tiga masalah utama yang menjadi tantangan
pemikiran dan aqidah bagi ummat Islam dewasa ini. Pertama-tama beliau mengawali
pembahasannya dengan menjelaskan kisah ashabul kahfi dalam Al-Qur’an. Beliau
menjelaskan bahwa di masa lalu pemuda merupakan potret keemasan dalam setiap
perjuangan Islam termasuk di Indonesia. Namun kata beliau, seiring dengan
perkembangan zaman para pemuda pun menjadi rusak dan menjadi sasaran utama para
musuh-musuh Islam.Sebagai dampaknya,para pemuda telah teracuni pikirannya oleh
Paham-paham menyimpang. Beliau menyebutkan fakta-fakta sejarah bahwa pada zaman
orde baru, paham-paham sesat kurang berkembang di Indonesia karena langsung di
counter oleh penguasa dan jajarannya yang menggunakan pendekatan keamanan dalam
pemerintahannya. Baru setelah masuknya era reformasi sejak tahun 1998
faham-faham aneh dan nyeleneh kemudian dengan bebasnya bermunculan yang
berlindung di bawah ketiak demokrasi. Akhirnya,para penguasa pun menjadi
terkesan kurang tegas menyikapi aliran-aliran sesat yang ada. 2 aliran sesat
yang beliau banyak soroti adalah Syi’ah dan Jaringan Islam Liberal (JIL).
Sesuai
hasil penelitian beliau di Jawa Timur bahwa Syi’ah itu ada 3 yakni Syi’ah
Militan yang tujuannya adalah ingin mengadakan revolusi seperti di Iran. Kemudian
yang kedua ada yang dikenal dengan SUSI ( Sunni Syi’i) yang notabene digawangi
oleh orang-orang yang mengaku ahlussunnah namun dalam kenyataannya masih
mengambil pendapat-pendapat syi’ah atau bahkan tidak berani mengatakan bahwa
syi’ah itu sesat. Kemudian yang terakhir adalah Syi’ah pemikiran yakni
orang-orang yang gandrung dengan buku-buku Syi’ah yang mereka kemudian menjadi
simpatisan-simpatisan Syiah. Beliapun pun menyimpulkan bahwa Syi’ah merupakan
penghancur ummat dari sisi aqidah.
Adapun
terkait Jaringan Islam Liberal, beliau menyebutkan bahwa Jaringan Iblis
La’natullah tersebut merupakan penganut faham mu’tazilah yang mendewa-dewakan
akal. Kerancuan yang nampak dari mereka misalnya terkait masalah metodologi
dalam memahami agama Islam. Dlam pemahaman JIL, semua ilmu itu belum final jadi
masih bisa ditafsirkan sesuai kondisi zaman. Padahal dalam Islam kata beliau
ilmu itu memang sudah ada yang final dan belum final. Orang-orang JIL kemudian
menafsirkan semua ilmu dalam Islam dengan menggunakan otaku dang mereka dan
tentunya semua itu dilakukan dengan didanai besar-besaran oleh pihak asing.
Kemudian Prof Baharun menyampaikan penyimpangan lain dalam bidang teology yakni
qadariyah dan jabariyah. Qadariyah berkeyakinan bahwa manusia mempunyai otoritas
untuk berbuat apapun, Tuhan hanya tahu setelah sesuatu itu terjadi. Artinya
bahwa tidak ada campur tangan Allah terhadap sesuatu, Allah hanya tahu hasil
akhirnya menurut mereka. Adapun kaum Jabariyah merupakan antitesa dari faham
qadariyah. Menurut Jabariyah, Tuhanlah yang menentukan segalanya. Beliau
memberikan contoh, kalau Allah menakdirkan engkau bodoh maka selamanya engkau
akan bodoh walaupun engkau berusaha bagaimanapun caranya. Padahal menurut
Ahlussunnah waljama’ah, kita hanya disuruh berusaha dan berikhtiar dan Allah
akan menentukannya setelah kita berikhtiar seperti halnya kata beliau ketika Siti
Hajar Ibunda Nabiyullah Ismail Alaihissalam melakukan Sa’i, berlari-lari kecil
dalam mencari air minum. Setelah beberapa lama beliau berputar balik mencari
sumber air, kemudian akhirnya Allahu pun memunculkan mata air zam-zam yang
masih mengalir sampai detik ini bahkan sampai akhir zaman. Sebenarnya masih
banyak yang disampaikan oleh Prof Baharun yang tidak bisa kami muat semunya
dalam tulisan ini.
Ust
Muhammad Said Abd Samad, .Lc sebagai pemateri kedua membahas banyak tentang
penyimpangan Syi’ah Rafidhah yang memang beliau sendiri sangat pakar dalam
bidang tersebut. Beliau memaparkan banyak hal tentang Syi’ah antara lain bahwa
syi’ah saat ini bekembang besar di Sulawesi selatan. Beliau menyebutkan contoh
kasus di Kabupaten Maros ada seorang mahasiswi yang masih gadis diantar oleh
orang tuanya untuk dicarikan rumah kos. Beberapa waktu setelah itu orang tuanya
kembali menjenguk anaknya di tempat kos tersebut dan beliau tidak mendapati
anaknya. Diapun bertanya kepada orang di kos-kosan tersebut dan mereka bilang
bahwa anak gadis tersebut telah pergi bersama suaminya. Orang tua gadis
tersebut pun kaget dan hampir pingsan. Ternyata usut punya usut ternyata menurut
Ketua MUI Maros bahwa gadis tersebut telah dinikah mut’ah. Dalam pemaparan yang
lain, Ust Said banyak mengemukakan data-data terkait bahaya Syi’ah baik dari
MUI maupun dari hasil penelitian beliau sendiri. Beliaupun sempat mengemukakan
surat yang beliau terima dari Universitas Padjajaran Bandung tentang kebohongan
Gelar Profesor dan Doktor dari Jalaluddin Rahmat, gembong Syi’ah Indonesia. Di akhir
pemaparannya Ust Said sempat memberikan solusi sesuai dengan hasil pertemuan
beliau dengan para tokoh ummat Islam di adakan di Bandung beberapa waktu lalu yakni
pembentukan gerakan IJABI SAH, yang menurut beliau singkatan dari Ikatan
Jama’ah Ahlul Bait Sahabat.
Seminar
ini pun diakhiri dengan sesi tanya jawab yang mengundang partisipasi dari
penanya yang begitu banyak. Prof Baharun cukup kewalahan menjawab pertanyaan
yang sebagian besarnya ditujukkan kepada beliau. Lagi-lagi beliau menjawab
pertanyaan demi pertanyaan dengan begitu memukau para hadirin. Tak ada
sedikitpun raut wajah kekecewaan dari para hadirin yang datang yang menandakan
mereka puas dengan kegiatan ini. Semoga kegiatan-kegiatan diskusi atau seminar
seperti ini akan semakin semarak guna mengimbangi pemikiran-pemikiran
menyimpang dan bisa menyelamatkan aqidah ummat tentunya. Wallahu waliyyut taufiq./*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar