Laman

Rabu, 13 Juni 2012

SEJARAH PENULISAN AL-QUR’AN DAN PERKEMBANGANNYA PASCA UTSMAN HINGGA SEKARANG

 
 Oleh: Muhammad Ikhsan
PENDAHULUAN
Setelah panitia penulisan mushaf al-Qur’an yang ditunjuk dan diawasi langsung oleh Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan r.a. selesai menunaikan tugasnya, beliau kemudian melakukan beberapa langkah penting sebelum kemudian mendistribusikan mushaf-mushaf itu ke beberapa wilayah Islam. Langkah-langkah penting itu adalah:[1]
1.      Membacakan naskah final tersebut di hadapan para sahabat. Ini dimaksudkan sebagai langkah verifikasi, terutama dengan suhuf yang dipegang oleh Hafshah binti ‘Umar r.a.[2]
2.      Membakar seluruh manuskrip al-Qur’an lain. Sebab dengan selesainya mushaf resmi tersebut, keberadaan pecahan-pecahan tulisan al-Qur’an dianggap tidak diperlukan lagi. Dan itu sama sekali tidak mengundang keberatan para sahabat. Ali bin Abi Thalib r.a. menggambarkan peristiwa itu dengan mengatakan,
“Demi Allah, dia (‘Utsman) tidak melakukan apa yang ia lakukan terhadap mushaf-mushaf itu kecuali (ia melakukannya) di hadapan kami semua.”[3]

Setelah melakukan dua langkah tersebut, ‘Utsman bin ‘Affan r.a kemudian mulai melakukan pengiriman mushaf al-Qur’an ke beberapa wilayah Islam. Para ulama Islam sendiri berbeda pendapat tentang jumlah eksemplar mushaf yang ditulis dan disebarkan

Minggu, 03 Juni 2012

10 Penghalang Hidayah

 
Alhamdulillah hari ini saya mendapatkan ilmu lagi, sekarang saya mau membaginya dengan kalian, dibaca dan dipahami ya

ada 10 penghalang hidayah yaitu :

1. Lemahnya ilmu

Orang akan terhalang mendapatkan hidayah karena disebabkan lemahnya ilmu yang dia miliki, oleh sebab itu kita diwajibkan untuk mencari ilmu.

2. Tidak mau mengamalkan ilmunya

Ini juga termasuk penghalang mendapatkan hidayah, apabila kita sudah mencari ilmu, terus mempunyai ilmu, maka amalakanlah dengan cara mengajarkan lagi kepada orang lain, minimal kepada keluarga

3. Hasud dan Sombong

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu

Jumat, 01 Juni 2012

•♥• RENUNGAN PACARAN •♥•

1. Belum nikah aja udah main tangan, udah nikah biasanya main serong | makanya Islam haramkan pacaran. udah..putusin aja..
2. Belum nikah aja udah pinjam2 duit, sulit bayangkan tanggung jawabnya setelah nikah | no pacaran, putusin aja..
3. Belum nikah aja berani mintanya macem2, p*g*ng2, p*l*k, c**m, iiih | jamin setelah nikah dia nggak minta jg sama org lain? putusin aja..
4. Belum nikah aja berani sama Allah, Yang Selalu Mengawasi aja dia nggak takut | apalagi sama kamu yg belum tentu tau? | putusin aja..
5. Belum nikah aja udah banyak rayuan pulau maksiat, kamu yakin itu cuma untukmu? selama belum nikah belum tentu! | udah, putusin aja..
6. Belum nikah aja udah bawaannya males mikirin masa depan, main game mulu | harap apa untuk masa depan yg begini? | udah, putusin aja..


LANJOOT....

1. Pacaran itu menjalin silaturahim | "silaturahim itu hubungan ke kerabat, bukan pacaran" #UdahPutusinAja
2. Pacaran itu bikin semangat belajar | "semangat belajar maksiat?" #UdahPutusinAja
3. Pacaran itu buat dia bahagia, itu kan amal shalih | "ngarang, btw, telah bahagiakan ibumu? ayahmu?" #UdahPutusinAja
4. Pacaran itu sekedar penjajakan kok | "serius nih penjajakan? ketemu ibu-bapaknya berani?" #UdahPutusinAja
5. Kasian kalau diputusin | "justru tetep pacaran kasian, dia dan kamu tetep kumpulin dosa kan?" #UdahPutusinAja

Tata Cara Mandi Janabah


 Oleh: Mutamamul Ula


HUKUM MANDI JANABAH

Para ulama sepakat bahwa seorang yang junub wajib melakukan mandi wajib. Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala (artinya):

Dan jika kalian junub, maka bersucilah (mandilah).” (QS. Al-Maidah: 6)

Begitu juga dengan wanita yang telah suci dari haidh atau nifasnya, diwajibkan mandi seperti mandinya orang yang junub. Berkata Al-Imam Al-Mawardi rahimahullah : “Mandi seorang wanita dari haidh dan nifas seperti mandinya karena junub.” (Al-Hawi Al-Kabir, 1/226)

TATA CARA MANDI JANABAH


Mandi janabah/mandi wajib memiliki dua cara:
1. Cara yang sederhana.
2. Cara yang sempurna.

Pertama: Cara yang sederhana
Cara mandi janabah yang sederhana namun mencukupi/sah adalah cukup dengan berniat