Laman

Senin, 30 April 2012

Mendesain Kurikulum Pendidikan dengan Konsep al-Ghazali

 
 Oleh: Kholili Hasib
(Penulis adalah Peneliti InPAS Surabaya)
IMAM al-Ghazali merupakan ilmuan Muslim pertama yang mengkonsep ilmu secara sistematis menjadi dua; yaitu ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah.  Konsep ini ditulis dalam salah satu magnum opusnya, Ihya’ Ulumuddin jilid pertama. Yang menarik, kitab ini ditulis pada saat umat Islam sedang menghadapi perang salib. Hebatnya, kitab itu mampu menyadarkan dan menghidupkan tradisi keilmuan umat Islam pada masa itu. Poin penting yang menjadi kritikan Imam al-Ghazali adalah pengajaran ilmu-ilmu agama yang materialistik dan mudahnya konsep-konsep asing masuk dalam pemikiran umat Islam.
Imam al-Ghazali berjasa dalam mengajari umat bagaimana ‘membaca’ pemikiran asing dengan konsep Islam. Beliau termasuk ulama’ yang ensiklopedis. Pada usianya yang masih 33 tahun al- Ghazali telah mencapai gelar professor (al-Shaykh) di perguruan Nizamiyah, Baghdad.
Dalam kitabnya Tahafut Falasifah, ia menyajikan kritik terhadap pemikiran paripatetik (filsafat Yunani) mengenai konsep Tuhan, kejadian alam, dan konsep manusia. Ia membersihkan konsep-konsep yang Aristotelian, untuk dikembalikan kepada Islam.

Minggu, 29 April 2012

Al Qaradhawi: Kita Harus Siapkan Pemuda Sambut Hilangnya Israel!

Ketua Asosiasi Ulama Islam Dunia, Syeikh Yusuf Al-Qaradhawi menegaskan kembali kabar gembira hilangnya Israel dan kembaliknya Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha ke tangan bangsa Arab dan Umat Islam.
“Israel akan hilang pasti dan mereka akan keluar dari Palestina dan kita semua sedang menunggu hari itu,” tegasnya dikutip Informasi Palestina, Sabtu (28/04/20912).
Dalam khutbah Jumatnya kemarin di Masjid Jami’ Umar bin Khattab di Doha, Qatar menganjurkan umat agar bersiap-siap untuk menghadapi hari hilangnya Israel.
“Kita harus menyiapkan diri kita dan menyiapkan pemuda-pemuda kita sekarang untuk menyambut hari hilangnya Israel.”
Ia mengingatkan bahwa peringatan kemerdekaan Israel ke 64 selalu memberikan kenangan buruk dan derita bagi warga Palestina.

Rabu, 25 April 2012

BEKAM, Sunnah Nabi & Mukjizat Medis

Apakah kamu pernah mendengar istilah bekam ? apakah anda pernah dibekam? Berbahagialah anda apabila kamu menjawab, “pernah”. Sebab dari kuisoner yang ditunjukkan secara acak pada kaum muslimin menunjukkan bahwa yang belum mendengar istilah bekam sebanyak 80%, sedangkan yang belum pernah dibekam sebanyak 90%.

Bekam...? Apa sih tu? (makanan kali yaa..?? he3.. bukan sobat.)
Bekam atau Al hijamah adalah terapi untuk mengeluarkan darah “kotor”, baik karena sel-sel darah yang sudah tua atau mati maupun adanya toksin dan zat yang keberadaannya tidak diperlukan tubuh. Bersama darah kotor ini ikut keluar pula suhu panas dan angin yang berlebih. Darah kotor ini ikut keluar pula suhu dan angin yang berlebih. Darah kotor diambil dari lapisan kulit luar punggung, kaki, tangan atau bagian lainnya yang termasuk di dalam titik bekam.

Emansipasi dan Kesetaraan Gender Dalam Pandangan Islam

 Oleh: Abul Faruq Ayip Syafruddin 
Menjadi ibu rumah tangga atau bergelutnya wanita dalam lingkup domestik merupakan kemunduran adalah sekelumit citra yang kuat tertanam sebagai buah dari propaganda emansipasi. Dengan ini, para wanita pun terpacu untuk mengejar karir meski hanya untuk meraih simbol status. Padahal tanpa disadari, banyak hal yang mereka pertaruhkan di sini.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Peribahasa ini sangat tepat untuitasi para pemilik modal (kapitalis).1 Suara kebebasan yag didengungkan hanya mengantarkan kaum wanita menjadi mesin-mesin ekonomi. Harkat, martabat, dan kemuliaan yang dicitakan cuma sebatas angan. Malang nian nasib kaum wanita. Lepas dari mulut buaya, masuk mulut harimau. Emansipasi tak mampu mengangkatnya dari titik nadir keterpurukan.

Perjuangkan Kesetaraan Gender Dipicu Penindasan Inquisisi di Barat

Oleh: Thufail
Reaksi terhadap kehadiran RUU Kesetaraan Dan Keadilan Gender (KKG) juga mendapat perhatian dari kalangan mahasiswa. Organisasi Agama Islam Universitas Indonesia (Salam UI). Selasa (10/04/2012) kelompok mahasiswa itu mengadakan Kajian Publik RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) di Auditorium Perpus Pusat UI lt.6
Acara ini mengundang pembicara antara lain Henri Shalahudin (INSISTS), Heru Susetyo SH dan Ledia Hanifah Amalia S.Si dari Komisi VIII Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Heru Susetyo menjelaskan ada begitu banyak kerancuan dalam RUU KKG ini. Menurutnya permasalahan mendasar mengenai permasalahan kekerasan terhadap perempuan tidak hanya bersumber dari permasalahan gender. Ada aspek lain yang juga harus diperhatikan.

Islam di Nusantara: Perspektif Orientalis dan Revisionis


 Oleh: Dr. Syamsuddin Arif *
“The past is everywhere a battleground of rival attachments; competing groups struggle to validate present goals by appealing to continuity with, or inheritance from, ancestral or other precursors.” – David Lowenthal.
Dalam literatur kesarjanaan antarabangsa, bila, darimana, dan bagaimanakah masuknya Islam di kepulauan Indonesia-Melayu serta sejauh manakah pengaruhnya adalah persoalan-persoalan yang menyulut kontroversi di kalangan Orientalis maupun ilmuwan-ilmuwan Muslim. Makalah ini akan memetakan ranah historiografi Islam di Nusantara sekaligus meninjau ulang pelbagai pandangan dan hujah-hujah yang telah dilontarkan berkaitan masa dan tempat asal kedatangan, pola-pola konversi dan sebabsebabnya, serta kadar pengaruh ajaran Islam terhadap penduduk Nusantara, terutama dari sisi metodologi dan epistemologinya.
1. Penanggalan: Sejak Bila?
Kita mulai dengan pertanyaan: Bilakah Islam sampai ke Nusantara? Secara garis besar, jawaban para ahli untuk soalan ini terbagi dua. Pendapat pertama mengatakan bahwa Islam tiba di Nusantara pada abad ke-13 Masehi, yakni setelah runtuhnya Dinasti Abbasiyah akibat serbuan tentara Mongol pada tahun 1258 M: “Toen de Mongolenvorst Hoelagoe in 1258 na Chr. Bagdad verwoestte, …was de Islam langzaam aan begonnen, in de eilanden van den Oost-Indischen Archipel door te dringen,” demikian menurut Christiaan Snouck Hurgronje (w.1936), pakar ketimuran (Orientalis) sekaligus penasehat kolonial Belanda. Pendapat klasik ini didasarkan pada batu nisan kubur Sultan Malik as-Shalih tahun 696 Hijriah atau1297 Masehi. Dirujuk pula catatan perjalanan Marco Polo yang sempat singgah di Sumatra pada tahun dan memberitakan ramainya rakyat kerajaan Perlak telah memeluk Islam.

Selasa, 24 April 2012

Gus Hamid: “Umat Islam Harus Berwajah Intelektual”

 Oleh: Holili Hasib

Orasi ilmiah sekaligus peluncuran buku terbaru Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil  berjudul “MISYKAT: Refleksi tentang Islam, Westernisasi, dan Liberalisasi” Ahad kemarin (15/04/2012) menarik berbagai kalangan tokoh dan aktifis di Jawa Timur.
Sirikit Syah, MA – salah seorang penulis produktif-- mengapresiasi buku MISYKAT. Dalam sambutannya mewakili ICMI Jatim ia terus terang mengatakan tema ini cerah dan mencerahkan. “Temanya menarik, sayang kalau acara ini saya lewatkan,” sambutnya dengan semangat.
Dalam acara yang diadakan di hotel ELMI Surabaya ini, Gus Hamid demikian Hamid Fahmy Zarkasyi akrab dipanggil berhasil memukau hadirin.
Bernas, kronologis, dipadu nalar yang tajam dan renyah, mirip gaya tulisannya di MISYKAT. Meskipun tema-tema yang dibahas tergolong berat, tapi Gus Hamid menyampaikannya dengan lancar-mengalir dan mudah dipahami.
“Tulisan dalam MISYKAT sengaja saya buat sederhana, gaya bahasa pendek-pendek dan mudah dicerna. Agar semua kalangan bisa menikmati. Sebab yang membutuhkan bukan kalangan tertentu saja, tapi umat keseluruhan,” jelasnya.

Senin, 23 April 2012

Prinsip Hidup Seorang Pembelajar Sejati

 
  Oleh: Abu Muhammad Abdullah Al Munawy

Lebih lanjut dari pada itu, jika dibandingkan dengan semua makhluk ciptan Allah yang lain, manusia juga merupakan makhluk yang paling mulia ditinjau dari sisi hakikat penciptaannya. Manusia dianugrahi oleh Allah dengan potensi akal dan nafsu. Berbeda dengan malaikat yang hanya diberi potensi akal oleh Allah yang di format untuk senantiasa taat kepada Allah. Begitu pula dengan binatang hanya diberi potensi nafsu tanpa adanya akal. Sehingga para ulama kita mengatakan bahwa manusia bisa lebih mulia dari malaikat dan sebaliknya bisa lebih hina dari binatang. Kenapa demikian? Tentu saja karena malaikat wajar taat kepada Allah karena memang tidak ada potensi untuk bermaksiat. Begitu pula binatang amatlah  wajar bisa melakukan sesuatu seenaknya tanpa aturan karena memang tidak memiliki akal walaupun kadang binatang bisa bermanfaat bagi manusia namun hal itu tidak didasari oleh akal tetapi naluri yang juga bagian dari Ilmu Allah.
Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa orang yang bisa mengarahkan akalnya sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulnya serta bisa mengekang hawa nafsunya ia akan lebih mulia dari malaikat dan sebaliknya manusia yang tidak menggunakan akal dan memperturutkan hawa nafsunya maka orang tersebut akan lebih hina dari binatang ternak sebagaimana digambarkan oleh Allah dalam surah Al-A’raf ayat 179 yang artinya “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Catatan Untuk Saudaraku Sebagai Bekal Pulang Kampung

 
Oleh: Abu Muhammad Abdullah Al Munawy

Tidak terasa liburan semester kembali menyapa para mahasiswa. Tentu banyak yang bersuka cita ketika musim libur itu datang. Bagi golongan academic oriented student ( bureng/buru ranking) kesempatan ini dijadikan sebagai moment istrahat dari kepenatan kuliah satu semester lamanya. Bagi golongan mahasiswa mandiri, momen ini  dimanfaatkan untuk cari kerja demi menutupi biaya SPP semester berikutnya. Namun, salah satu tradisi yang lazim dilakukan adalah acara pulang kampung apatah lagi bagi mahasiswa yang daerah asalnya tidak terlalu jauh dari kampus tempat dia menimba ilmu. Sebut saja bagi yang kuliah di Unhas. Bagi mahasiswa yang kampungnya lumayan jauh biasanya rela memendam keinginan untuk pulang kampung. Mungkin mereka berpikiran, apa juga yang akan dilakukan di kampung ataaau, mungkin juga karena buang-buang ongkos kalau pulang kampung (asal jangan ditabung untuk persiapan malam tahun baru). Kalau sekiranya boleh memilih, pulang kampung adalah pilihan tepat dan kesempatan emas untuk meraup pahala khususnya bagi aktivis dakwah. Apalagi bagi yang kebetulan tidak punya amanah lain di Makassar. Kenapa demikian? Tentu saja jawabannya adalah ketika pulang kampung, hal tesebut adalah peluang untuk mengaplikasikan ilmu dengan berdakwah di kampung halaman terlebih lagi berdakwah kepada keluarga khususnya kedua orang tua. Singkatnya,Jihad  di Makassar adalah menuntut ilmu sedangkan jihad di kampung halaman yang paling besar adalah berbakti kepada kedua orang tua.
Dalam sebuah kesempatan beberapa pekan lalu, kami mengikuti sebuah Ta’lim Pengurus satu lembaga Fakultas di Unhas tentang bekal-bekal sebelum pulang kampung. Nah, ditulisan ini kami akan berbagi kepada Saudara-saudara fillah terlebih yang mau pulang kampung atau bahkan sudah ada di kampung. Banyak hal yang perlu dilakukan sebagai bekal untuk pulang kampung atau ketika sudah berlabuh di kampung halaman antara lain : 

Fenomena Ma’mum yang terjadi di Masjid Kaum Muslimin

 
  Oleh: Abu Muhammad Abdullah Al Munawy

Sebuah subuh yang Indah, seperti biasanya kaum muslimin warga pondokan Unhas harus rela meninggalkan kasur empuknya tuk menyambut panggilan sang Ilahi. Mata yang serasa belum puas menerawangi mimpi-mimpi indah dalam tidur harus terbelalak walaupun agak berat demi dorongan hati dalam  penghambaan diri kepada Rabb, Allah Subhaanahu Wata’ala sang penguasa subuh. Ya, shalat subuh merupakan shalat yang paling berat dikerjakan diantara shalat Fardhu yang lain apatah lagi bagi para mahasiswa. Tidak heran Nabi kita yang tercinta sudah mewanti-wanti dalam sebuah Haditsnya bahwa Shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat Isya dan shalat subuh. Ini tidak berarti kami mengklaim mahasiswa pondokan banyak yang munafik loh. Itu hanyalah wasiat Rasulullah yang menggambarkan pentingnya kedua shalat tersebut.
Setelah shalat subuh, lazimnya yang dilakukan oleh jama’ah adalah berzikir ba’da shalat, membaca Al Qur’an, berbincang dengan jama’ah yang lain, maupun ada yang langsung berdiri untuk kembali ke pondokan masing-masing entah untuk melakukan aktivitas yang produktif ataukah melanjutkan episode mimpi sebelumnya alias tidur kembali. Inilah yang merupakan sindrom tidur pagi yang menimpa kaum muslimin, mahasiswa, atau bahkan aktivis dakwah sekalipun, termasuk kami juga mungkin yang terkadang melakukannya (astaghfirullah). Semoga kita semua bisa menghilangkan kebiasaan kurang baik ini paling minimal menguranginya karena tidak bisa dipungkiri kadang memang kita kecapean karena bagadang di malam sebelumnya. 

Anak Ajaib

   
Oleh: Abu Muhammad Abdullah Al Munawy

Di pagi yang cerah, sekitar jam 9 pagi, diiringi kilauan mentari dan sejuknya udara pagi, Aku bermaksud ke Universitas Indonesia Timur . Kebetulan, pada hari tersebut Aku punya ikatan janji pada malam sebelumnya dengan salah seorang keluargaku . Maklum, kebetulan oleh Allah dia ditakdirkan lulus di sana pada Jurusan Farmasi setelah sebelumnya pada ujian SNMPTN yang lalu, dia kurang beruntung karena dari banyaknya kampus negeri dari yang terkemuka sampai yang terbelakang, dia tidak meloloskan dirinya di Universitas-Universitas tersebut. Yah, itulah taqdir Allah ‘azza wa jalla. Kita hanya bisa berusaha dan bertawakkal, ujung dari segalanya adalah garisan pena takdir-Nya.
Pada pagi itu kebetulan kami bermaksud meninjau kamar kosnya yang terletak di sekitaran kampus Universitas Indonesia Timur. Yah,namanya juga mahasiswa baru dan belum lama di Makassar, kemana-mana mesti ditemani walaupun secara otomatis hal itu sudah menjadi tanggung jawab Aku sebagai keluarganya yang sudah cukup lama merantau dan menimbah ilmu di Makassar. Kebetulan lagi , hari itu, keluargaku tersebut sudah janjian sama beberapa akhwat pengurus lembaga dakwah di Universitas Indonesia Timur. Alhamdulillah dari awal Aku sudah membuat skenario jauh-jauh hari sebelumnya supaya keluarga Aku bisa bergabung dengan akhwat-akhwat disana. Kebetulan, Aku berteman akrab dengan Ketua Lembaga Dakwah Kampus Al-Misbah Universitas Indonesia Timur. Dari beliau inilah keluargaku dikenalkan dengan mujahidah-mujahidah di Universitas tersebut. Namun pada akhirnya keluargaku tidak tinggal bersama mereka karena alasan tertentu dan beliau lebih memilih tinggal ditempat yang lain. Ya, lagi-lagi semuanya telah Allah taqdirkan. Namun komunikasi keluargaku dengan para mujahidah-mujahidah di sana tetap terjalin. Alhamdulillah.

Refleksi Akhir Tahun bagi Para Mahasiswa Muslim Makassar

 
 Oleh: Abu Muhammad Abdullah Al Munawy
Cukup banyak catatan yang mestinya menjadi bahan muhasabah bagi pada mahasiswa selama tahun 2011. Khususnya yang beragama Islam. Namun pada tulisan ini kami hanya angkat salah satunya yakni pelajaran dari fenomena tawuran VS kurangnya pembinaan akhlak dan moral mahasiswa.
Sungguh miris dan menyayat hati rasanya ketika suatu saat kami mendengarkan ungkapan dari seorang ustadz “ disaat kampus-kampus lain yang ada di Jawa sedang asyik-asyiknya merancang berbagai macam karya baik yang bersifat fisik seperti elektronik maupun karya ilmiah yang lain, mahasiswa di Makassar masih disibukkan dengan tawuran “.Tamparan telak kiranya yang terjadi bagi mahasiswa secara umum yang ada di Makassar. Seperti yang beberapa kali terjadi di Unhas, UMI, UNM, dan kampus-kampus lain. Penyebabnya pun beragam, ada pertikaian antar fakultas, demonstrasi yang berujung bentrok, dan lain-lain. Untuk menjaga objektivitas  tulisan, kami tidak membahas salah satu kampus saja tetapi hal ini merupakan gambaran umum yang terjadi. Kalaupun nantinya akan sedikit mengambil contoh dari salah satu kampus, itu hanya skadar memperjelas maksud saja.

SMS Gratis, Ladang Pahala Yang Terabaikan

  Oleh: Abu Muhammad Abdullah Al Munawy
Sungguh lagi dan lagi, Allah telah menunjukkan kemahakuasaan-Nya akan hal-hal yang ada di atas muka bumi ini. Semua ciptaannya baik benda-benda fisik maupun nonfisik tak satupun ada yang sia-sia baik yang secara langsung kita dapatkan di alam maupun lewat buah pikiran manusia yang terbatas yang notabene juga merupakan titipan dari Allah azza wajalla. Tak diragukan lagi semua nikmat tersebut selain dari pada bentuk sifat Rahman atau kasih sayang Allah kepada semua makhluk-Nya, salah satu tujuan lainnya adalah untuk menguji sejauh mana rasa syukur kita kepada Allah, sang penggenggam alam semesta ini. Sejauh mana kita bisa memberdayakan semua nikmat tersebut untuk kemaslahatan umat manusia dan kaum muslimin pada khususnya.


Nikmat yang kecil dan sering dilupakan oleh manusia yang terlampau bodoh dan pongah apalagi yang mengaku aktivis dakwah adalah nikmat teknologi informasi yang begitu luar biasa dahsyatnya. Meskipun dalam satu sisi terbukti menimbulkan mudharat namun disisi lain juga memberi manfaat yang luar biasa. Kalau Facebook sudah jelas. Contoh yang kami angkat dalam tulisan ini adalah SMS gratis yang ditawarkan oleh banyak operator layanan telepon atau content provider. Sebagai aktivis dakwah yang punya semangat yang tinggi dalam mendakwahkan kebaikan, sekecil apapun akan menyadari manfaat nikmat Allah yang satu ini. Mungkin kita bisa membayangkan apa maksud kami,,,Yah, tidak salah lagi yakni  SMS-SMS dakwah yang semestinya bisa kita layangkan kapan saja kepada objek dakwah, keluarga, ataupun sahabat-sahabat kita yang semuanya kita cintai karena Allah. Hanya dengan beberapa tahapan pendaftaran kita bisa mendapatkan ratusan bahkan ribuan SMS gratis dengan berbagai fitur dan variannya untuk keperluan SMS dakwah tadi. Ajaib! 

Fenomena Tasyabbuh di Akhir Tahun

 
 
Oleh: Abu Muhammad Abdullah Al-Munawy
 
Hari natal yang jatuh pada tanggal 25 Desember diklaim oleh orang orang Nasrani sebagai hari kelahiran Yesus Kristus. Padahal, sejarah membuktikan bahkan pendeta-pendeta mereka juga mengakui bahwa tanggal kelahiran Yesus atau Isa dalam agama Islam, tidak bisa dipastikan secara persis. Usut punya usut, tanggal 25 Desember itu ternyata merupakan tanggal kelahiran Dewa Matahari dalam mitologi Yunani. Tidak perlu diherankan karena memang Agama kristen mengadopsi warisan dari kaum pagan penyembah dewa matahari. Umat kristiani telah bersepakat bahwa Yesus bagi mereka adalah pembawa terang sehingga diibaratkan seperti matahari yang merupakan sumber cahaya terbesar bagi kehidupan di bumi.
Sayangnya, moment tersebut bagi sebagian besar ummat Islam khususnya generasi muda dijadikan sebagai momentum untuk merusak aqidahnya sendiri atas nama toleransi. Inilah yang terjadi. Lantaran kebodohan ummat ini akan agamanya, mereka rela ikut merayakan bersama teman atau kenalannya yang beragama nasrani, turut memakai atribut natal seperti busana sinterclas, membuat pohon natal, dan lain sebagainya. Bahkan yang lucunya, kami pernah nonton siaran ditelevisi, ada beberapa organisasi Islam sampai pengurus remaja masjid yang rela menjadi pengaman di acara Misa-misa malam natal. Padahal, dalam Al Qur’an Allah Subhaanahu Wata’ala melarang kita untuk saling tolong menolong dalam hal keburukan. Kalau saja mereka mempelajari aqidah Islam yang lurus, sekadar mengucapkan selamat hari natal saja kepada umat nasrani pasti mereka tidak akan lakukan. Berkata Imam Ibnu Qayyim “memberikan ucapan selamat di hari besar ummat agama lain jauh lebih buruk dari pada mengucapkan selamat kepada pelaku zina". Tentu saja ini adalah bentuk kesyirikan yang sangat besar yang tidak diampuni dosanya oleh Allah Subhaanahu Wata’ala sebelum bertobat.