Dakwah adalah tugas fitrah manusia yang
diamanahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar manusia saling mengingatkan
dalam kebaikan serta membawa mereka untuk kebahagiaan di dunia dan akhirat
serta membawa kemaslahatan bagi semua makhluk.
“Serulah (manusia) kepada
jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan
cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa
yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl:125)
Akan tetapi dalam
kenyataannya berdakwah itu tidaklah mudah. Adalah merupakan hal yang fitrah
pula dan telah berlangsung sejak zaman Nabi Adam, bahwa menyeru manusia kepada
kebaikan adalah sesuatu yang sangat sulit. “Dia telah mensyari’atkan kamu
tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami
wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan
Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat
berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah
menarik kepada
agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada
(agama)Nya orang
yang kembali (kepadaNya).” (QS Asysyura:13). Terkadang telah
lama waktu yang dihabiskan, begitu besar biaya dan tenaga yang dikuras, akan
tetapi hasil yang diharapkan cenderung tidak seimbang bahkan nihil sama sekali.
Keadaan seperti inipun
tak lepas dari dunia kampus. Bahkan dengan ciri khas tersendiri, dakwah kampus
memiliki fenomena dakwah yang berat. Betapa tidak, dakwah di kampus, berarti
menganjurkan kebaikan di suatu lingkungan yang dianggap intelek. Menyampaikan
nilai-nilai keislaman kepada suatu komunitas masyarakat yang sangat menjunjung
tinggi aspek rasionalitas. Justru di sinilah letak kekhasan itu. Mungkin lebih
mudah untuk menyampaikan dakwah kepada masyarakat yang memang belum tahu atau
belum paham karena mereka lebih mudah menerima apa yang disampaikan,
dibandingkan bila berdakwah kepada kalangan kampus (mahasiswa). Mengapa? Aspek
logika yang cenderung diprioritaskan, menyebabkan mereka senantiasa
mempertimbangakan sesatu berdasarkan dimensi logika atau ekspektasi akal
terhadap informasi yang diterima.
Hal ini lebih dipertegas
lagi oleh kenyataan bahwa kampus adalah bagian yang terintegrasi dengan sistem
sosial, dimana secara psikis dan psikologis, apapun yang terjadi di masyarakat
akan mempengaruhi kehidupan kampus juga sebaliknya. Selama itu masih
berlangsung dalam tataran positif dan kondusif, maka tidak akan membawa
masalah, akan tetapi pada kenyataanya kampus lebih mudah terkontaminasi dengan
dampak negatif sehingga menciptakan kompleksitas, dan ketidakpsatian dakwah
yang lebih tinggi serta menciptakan kondisi tarik menarik antara berbagai
kepentingan, berbagai pemikiran, berbagai idealisme, dan lain-lain. Kondisi ini
tentulah membutuhkan suatu manhaj atau manajemen dakwah yang khusus pula.
Di sisi lain, untuk
menghadang keadaan ini dibutuhkan perangkat sumber daya manusia (brainware)
yang handal. Tantangan dakwah yang semakin besar membutuhkan kreatifitas,
kekuatan, dan yang terakhir namun sangat penting adalah kedewasaan. Ada saat
dimana para aktifis dakwah kampus terlihat seperti 'singa' yang senantiasa
aktif mengurusi dakwah di kampus. Saking aktifnya sehingga mereka tidak memberi
peluang secuilpun melihat ada yang 'kurang' di kampus mereka. Namun ada saat
dimana mereka terlihat down dalam bergerak. Bagi mereka yang sudah dibekali
dengan bekal tazkiyatun nafs yang baik, maka hal itu tidak akan berlangsung
lama karena dalam waktu yang relatif singkat mereka akan kembali 'pulih'. Hal
ini biasanya terdapat pada diri aktifis yang dewasa dalam melihat kondisi.
Sedangkan bagi mereka yang 'belum dewasa' maka akan membutuhkan waktu yang lama
untuk 'pulih'.
Seperti yang telah
dikemukakan terdahulu, tantangan dakwah di sekitar kita sangat besar baik yang
datang dari internal para aktifis dakwah itu atau yang datangnya dari luar.
Berbagai tantangan itu seolah datang menyerang kita dari segala arah tanpa
menunggu kita siap atau tidak. Di sinilah titik awal kedewasaan. Seorang
aktifis yang dewasa, adalah:
1. Mampu
berpikir secara jernih
Yang dimaksud di sini
adalah sekompleks apapun lingkungan objek dakwah, maka ia mampu untuk memilah
masalah berdasarkan jenis atau tingkat kesulitannya. Kemudian menentukan
peluang atau pendukung yang ada serta faktor-faktor yang tidak mendukung,
kemudian menentukan langkah selanjutnya yang harus diambil.
2. Memanfaatkaan
semua potensi yang dimiliki dan menyingkirkan semua halangan.
Sekecil apapun suatu organisasi dakwah pasti memiliki sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk menjalankan dakwah dan ini bukan bearti bahwa mereka tidak akan berhasil. Justru sebaliknya tak jarang terjadi dengan modal yang pas-pasan mampu mengembangkan dakwah hingga menjadi besar.
Sekecil apapun suatu organisasi dakwah pasti memiliki sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk menjalankan dakwah dan ini bukan bearti bahwa mereka tidak akan berhasil. Justru sebaliknya tak jarang terjadi dengan modal yang pas-pasan mampu mengembangkan dakwah hingga menjadi besar.
3. Memotivasi
diri
Biasanya kita akan
bersemangat apabila kita melihat teman kita bersemangat. Atau lingkungan yang
seakan menarik kita untuk tetap bekerja. Dengan kata lain biasanya tingkat
produktifitas seseorang dipengaruhi oleh lingkungan kerjanya. Lingkungan yang
kondusfif akan meningkatkan produktifitas. Akan tetapi hal ini pun sepenuhnya
tergantung pada diri seorang aktifis. Seorang dengan motivasi diri yang kuat
akan memiliki konsistensi dakwah yang tinggi dengan atau tanpa dukungan dari lingkungan.
Orang seperti ini tidak akan mudah patah semangat apabila ia mendapatkan
kelemahan pada jamaahnya, atau turut surut langkahnya saat teman-temannya
mundur, atau menyerah saat menghadapi tantangan, atau bahkan saat-saat ia
sedang mengalami gejala futur sekalipun. Dan sekali lagi ini hanya didapatkan
pada diri aktifis yang dewasa. Mereka yang dewasa tidak akan meninggalkan
jamaahnya dan segera berpaling ke jamaah lain akan tetapi ia akan berusaha
untuk memperbaikinya apakah dengan tangannya, lisannya, maupun hatinya. Ia
bahkan semakin giat bekerja saat menghadapi tantangan karena ia merasa di
situlah kedewasaannya, kemampuannya, potensinya sedang diuji kekuatannya. Saat
sedang 'malas' maka ia akan bersegera menyadari diri bahwa ia sedang berusaha digoda
dan dengan bersegera bangkit dari kemalasan tersebut untuk kembali aktif
bekerja.
Untuk memiliki kedewasaan
semacam ini tidaklah mudah karena sangat tergantung pada karaktersitik
psikologis seseorang. Dalam hal motivasi kerja, maka karakter ini saya bagi
menjadi dua. Karakter yang pertama adalah karakter yang independen yaitu
seseorang yang mampu untuk memotivasi diri sendiri dan terbiasa untuk
memecahkan masalah yang dihadapi sendiri (bukan individualistk). Karakter ini
biasanya dimiliki oleh seseorang yang di keluarga atau di masyarakat adalah
figur-figur pemimpin, pencetus, dan pelopor. Walau dengan segala kelemahannya,
ia akan berusaha untuk menemukan jalan keluarnya sendiri sebelum pada
gilirannya tetap akan meminta pertimbangan pihak luar. Karakter yang kedua
adalah dependen yaitu orang yang perlu orang lain untuk bisa bergerak. Pada
saat kondisi sedang down ia membutuhkan orang lain untuk membantunya. Jika ia
temukan orang tempat curhat tersebut, maka ia akan segera pulih. Akan tetapi
jika tidak maka ia akan menjadi lebih buruk. Tipe pertama adalah tipe yang
konsistensi tinggi. Cenderung untuk komitmen dan mempertahankan keyakinannya
selama ia yakin dengan kebenaran yang diperjuangkannya. Tipe kedua lebih
tergantung pada pihak luar dan lebih mudah untuk terpengaruh. Tentu saja tidak
ada jaminan bahwa karakter pertama lebih baik dari karakter kedua. Akan tetapi
memang dalam sektor dakwah, sangat dibutuhkan orang-orang yang memiliki
karakter pertama. Kedewasaan dalam bertindak dan berperilaku tanpa harus selalu
tergantung pada orang lain sangat dibutuhkan dalam dakwah. Untuk membina
kedewasaan maka dapat dilakukan upaya sebagai berikut:
1. Ingat
kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dimana dengan mengingatNya kita akan tenang
dan akan selalu teringat akan amanah yang dibebankan di pundak kita. Menyadari
posisi diri baik sebagai manusia yang memiliki amanah untuk amar ma'ruf nahi
mungkar serta sebagai hamba yang harus senantiasa menjalankan semua
perintahNya. Bahwa sesungguhnya semua amanah itu nantinya akan dipertanggungjawabkan.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggungjawabannya.” (QS Al-Israa’ : 36)
2. Betul-betul
memahami tentang urgensi waktu dan kerugian bagi orang-orang yang
menyia-nyiakannya dimana aktivis dakwah selalu harus dalam kondisi siap pakai
dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan amanahnya. “Maka apabila kamu selesai
(dari satu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Dan,
hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS Asy-Syarh:7-8)
3. Mengenali
diri sehingga mampu menggenjot potensi dan menutup semua jalan masuk yang
memungkinkan untuk tidak bersemangat. Seseorang harus tahu apa yang dapat
menjadikannya termotivasi dan berusaha melaksanakannya. Serta menjauhi hal-hal
yang dapat menjauhkannya dari rasa malas. Tidakkah kita memahami tentang tujuan
hidup kita di dunia ini? ”Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk
beribadah kepada-Ku.” (Qs Adz-Dzariyat : 56). Dalam ayat lain Allah juga
berfirman: “Apakah kamu sekalian mengira bahwa Kami menciptakan kamu sia-sia
tanpa tujuan dan kepada Kami kamu tidak dikembalikan?” (QS Al-Mukminun:116).
4. Mentarbiyah
diri baik tarbiyah ruhiyah maupun tarbiyah jasadiah baik dengan tazkiyah dan
tausiah atau kegiatan-kegiatan pembinaan dan pengembangan potensi individual.
Ini dilakukan sebagai upaya untuk mempertahankan keimanan sebagai ruh dari
dakwah itu sendiri. “Dan orang-orang yang mendapat petunjuk. Allah menambah
petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka(balasan) ketakwaannya.” (QS
Muhammad : 17)
5. Menyadari
hakikat dakwah dan semua aspek yang mempengaruhinya. Bahwa tantangan dakwah itu
bertumbuh melebihi kecepatan dakwah itu sendiri, sehingga tak ada waktu untuk
berpangku tangan.
6. Mulai
berhenti untuk hanya memikirkan diri sendiri. Ingat bahwa selain kita, ada hak
orang lain atas kita. Jika waktu yang ada hanya habis untuk memikirkan tentang
perasaan kita, emosi kita, dan semua ego pada diri kita, maka kita akan
tertindas ke lembah penyakit futur. Tidak ada salahnya kita pun memperhatikan
diri kita sendiri karena itu penting tapi jangan sampai seluruh usia kita hanya
habis untuk kepentingan pribadi. Ingat, Islam menuntun kita agar selalu
bersikap wasatan (pertengahan) dalam segala hal. Tidak berlebih-lebihan dan
juga tidak memudah-mudahkan. Apabila semua ini telah diterapkan secara baik,
maka insya allah akan tercipta singa-singa Allah yang matang dalam sikap dan
dewasa dalam bepikir, wallahu ta'ala a'lam.
Maraji’:
1. Al Qur’an dan Terjemahannya
2. Waktu Nafas yang Takkan Kembali, Abdul Malik Al-Qasim
3. Yang Berjatuhan Di jalan Da’wah, Fathi Yakan
4. Majalah Manajemen
Sumber : http://www.elmutarabbi.blogspot.com
1. Al Qur’an dan Terjemahannya
2. Waktu Nafas yang Takkan Kembali, Abdul Malik Al-Qasim
3. Yang Berjatuhan Di jalan Da’wah, Fathi Yakan
4. Majalah Manajemen
Sumber : http://www.elmutarabbi.blogspot.com
http://mudaarraayah.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar